Sabtu, 11 April 2015

Person Centered Therapy (Rogers)


Nama:  Tsuraya Farah Khansa W.
NPM:   17512491
Kelas:  3PA06 

a.       Konsep dasar

        Terapi person-centered bersandar pada asumsi bahwa setiap orang memiliki motif aktualisasi diri. Motif ini didefinisikan sebagai kecenderungan yan melekat pada semua orang (dan pada semua organism) untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya dalam cara-cara yang berfungsi untuk mempertahankan atau meningkatkan orang itu (Rogers, 1959). Rogers berpendapat bahwa seorang terapis tidak boleh membuat sugesti-sugesti atau penafiran-penafsiran dalam terapi karena dalam pandangan motif aktualisasi akan menuntun pasien dengan sangat baik.

     Berikut ini akan diberikan definisi-definisi dan konsep-konsep lain yang penting dalam terapi person-centered.

1.      Self concept (konsep diri) mengenai konsepsi seseorang tentang dirinya.
2.      Ideal self (diri ideal) mengenai self concept yang ingin dimiliki seseorang (seseorang ingin menjadi apa).
3.      Ketidakselarasan (incongruence) antara diri dan pengalaman yaitu suatu celah yang ada antara self-concept seseorang dan apa yang dialaminya. Misalnya, seorang individu mungkin mempersepsikan dirinya sebagai orang yang ramah, menarik, dan suka bergaul, tetapi ketika berada bersama dengan orang lain mungkin dia merasa terabaikan. Bias terjadi celah seperti itu, maka orang tersebut akan menjadi tegang, bingung, dan cemas.
4.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologis (psychological maladjustment). Hal ini terjadi bila seseorang menyangkal atau mendistoraikan pengalaman-pengalaman yang penting. Orang yang tidak mampu menyesuaikan diri secara psikologis adalah orang yang mengalami ketidakselarasan antara dirinya dan pengalaman.
5.      Keselarasan antara diri dan pengalaman. Konsep seseorang tentang dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dialaminya.
6.      Kebutuhan akan penghargaan positif (need for positive regard). Kebutuhan untuk dihargai dan dihormati oleh orang lain.
7.      Kebutuhan akan harga diri (need for self regard). Kebutuhan untuk menghargai diri sendiri.

b.      Unsur-unsur terapi

      Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah oran yang memilih dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Pendekatan humanistic Rogers terhadap terapi – person centered therapy – membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondiri-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien.

    Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan-perasaan yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya dan tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberikan penilaian.

c.       Teknik-teknik terapi

      Rogers mengemukakan enam syarat dalam proses terapi person-centered yang harus dipenuhi oleh terapi. Rogers menyatakan bahwa pasien akan mengadakan respons jika: (1) Terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri; (2) Terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakkan dirinya ke arah kematangan (kedewasaan) serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan ini dan bukan usaha-usahanya sendiri; (3) Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkannya; (4) Membatasi tingkah laku tetapi bukan sikap, misalnya pasien mungkin mengungkapkan keinginanya untuk memperpanjang pertemuan melampaui batas waktu yang telah disetujui, tetapi terapi tetap mempertahankan jadwal semula; (5) Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi yang sedang diungkapkan pasien yang mungkin dilakukannya dengan memantulkan kembali dan menjelaskan perasaan-perasaan pasien; serta (6) Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran, menasihati, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali.

Daftar Pustaka

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.

Terapi Humanistik Eksistensial


Nama:  Tsuraya Farah Khansa W.
NPM:   17512491
Kelas:  3PA06


a.       Konsep dasar

Pandangan humanistik-eksistensial adalah suatu pandangan yang agak baru untuk memahami tingkah laku abnormal dan dalam banyak hal dikembangkan sebagai reaksi melawan pandangan-pandangan lain. Para humanis dan eksistensialis mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk sadar yang memiliki secara bebas tindakan-tindakannya, dan karena pilihannya yang bebas itu maka setiap manusia berkembang sebagai seorang yang unik. Pendukung dari pandangan ini juga mengemukakan bahwa untuk memahami tingkah laku seseorang sangat penting melihat atau mengalami dunia dari segi pandangannya sendiri karena tingkah lakunya disebabkan oleh pilihan sadarnya dan pilihan itu dipengaruhi oleh persepsi pribadinya tentang situasi.
     
Karena penekanan diletakkan pada pentingnya persepsi untuk menentukan tingkah laku, maka pandangan humanistik-eksistensial kadang-kadang disebut pendekatan fenomenologis. Fenomenologis adalah pendekatan yang bertolak dari gagasan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan bukan melalui pikiran dan ituisi.

b.      Unsur-unsur teori

Dalam pandangan eksistensial-humanistik, penderita yang neurotik adalah orang yang kehilangan perasaan berada dan kehilangan perasaan berada ini menimbulkan depresi. Tugas utama terapis adalah membantu penderita agar ia menyadari keberadaannya di dunia ini. Tujuan terapi adalah membantu penderita supaya ia memperoleh atau menemukan kemanusiaan yang hilang. Dengan kata lain, terapis eksistensial-humanistik membantu memperluas kesadadaran diri penderita, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihanya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab terhadap arah hidupnya sendiri. Penerimaan tanggung jawab itu bukan sesuatu yang mudah dan banyak orang merasa takut akan beratnya tanggung jawab terhadap menjadi apa dia sekarang dan akan menjadi apa dia selanjutnya.

 Penderita harus memilih, misalnya, akan tetapi berpegang pada kehidupan yang dikenalnya atau akan membuka diri kepada kehidupan yang kurang pasti dan lebih menantang. Justru karena tidak adanya jaminan-jaminan dalam kehidupan, maka penderita mengalami kecemasan yang pada akhirnya menimbulkan depresi. Oleh karena itu, terapis eksistensial-humanistik membantu penderita agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan-tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedat korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

c.       Teknik-Teknik Terapi

1.      Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
2.      Klien dibantu dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia.
3.      Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima.
4.      Klien diajak untuk berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka, kemudian klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang konkrit, klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.


Daftar Pustaka:

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.

Kamis, 09 April 2015

Teori Psikoanalisis


Nama:  Tsuraya Farah Khansa W.
NPM:   17512491
Kelas:  3PA06

a.       Konsep Dasar

Menurut Freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita. Alam bawah sadar (preconscious) memuat semua elemen yang tidak disadari, tetapi bias muncul dalam kesadaran dengan cepat atau agak sukar. Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar. Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam bawah sadar selagi focus perhatian beralih ke pemikiran lain.
Sumber kedua dari gambaran-gambaran adalah alam tidak sadar. Freud yakin bahwa pikiran bisa menyelinap dari sensor yang ketat dan masuk kea lam bawah sadar dalam bentuk yang tersembunyi. Alam sadar (conscious) didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaraan. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bias masuk ke alam sadar. Pintu pertama adalah melalui system kesadaran perceptual yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar. Sumber kedua datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang dating dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cems, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.
            Bagi Freud, bagian yang paling primitive dan pikiran adalah das Es atau “sesuatu”/”itu” (it), yang hamper selalu diterjemahkan sebagai id, yaitu fungsinya adalah untuk memperoleh kepuasan sehingga kita menyebutnya sebagai prinsip kesenangan ( pleasure principle).bagian kedua adalah  das Ich, atau’saya (I), yang diterjemahkan sebagai ego, adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan realita. Ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan(reality principle),yang berusaha menggantikan prinsip kesenangan milik id. Dan yang terakhir adalah das Uber-Ich atau “ saya yang lebih” (over-i) yang dalam bahasa inggris disebut sebagai superego yang dikendalikan oleh prinsip-prinsip  moralistis dan idealis yang berbeda dengan prinsip kesenangan dari id dan prinsip realistis dari ego.
            Menurut Freud, manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan. Motivasi ini diperoleh dari r psikis dan fisik dari dorongan-dorongan dasar yang mereka miliki. Berbagai macam dorongan bias digolongkan berdasarkan dua kategori, yaitu seks atau eros dan agresi, distraksi atau thanatos. Dorongan-dorongan ini bermuasal pada id, tetapi berada dibawah kendali ego. Masing-masing dorongan memiliki bentuk energi psikis masing-masing. Freud menggunakan istilah libido untuk dorongan seks, sedangkan energy untuk dorongan agresi tidak diberi nama.
            Freud pertama kali mengembangkan tentang mekanisme pertahanan diri (defence mechanisms) pada tahun 1926. Mekanisme-mekanisme pertahanan untama yang diidentifikasi oleh Freud mencakup represi, pembentukan reaksi, pengalihan, fiksasi, proyeksi, regresi, introyeksi,  dan sublimasi. Freud juga membagi tahap perkembangan psikoseksual menjadi lima yaitu fase Oral, fase Anal, fase Falik, fase Phalik, dan fase Genital.

b.      Unsur-unsur terapi
     
       Freud mengemukakan bahwa tujuan psikoanalisis adalah memperkuat ego, membuatnya lebih independen dari superego, memperlebar medan persepsinya, memperluas organisasinya sehingga ia dapat memiliki bagian-bagian yang segar dari id. Psikoanalisis dapat membantu memancarkan terang kesadaran (yang diwakili oleh ego sadar) pada pekerjaan-pekerjaan id. Namun, Freud tidak mengharapkan dan juga tidak bertujuan bahwa klien harus berusaha menyadari semua bahan yang direpresikan—semua impuls, hasrat,ketakutan, dan ingatan. Tujuannya adalah hanya untuk menggantikan tingkah laku defensive dengan tingkah laku yang lebih adaptif.    Freud menggunakan terapi psikoanalisi untuk membantu klien memperoleh pemahaman mengenai konflik-konflik tak sadar dan memecahkannya. Apabila metode-metode yang digunakan oleh terapi psikoanalisitik mulai mengembangkan dalam diri pasien suatu pemahan baru terhadap kekuatan-kekuatan kepribadiannya, amak proses psikoanalitik sudah berada pada jalan menciptakan penyeusian diri yang berhasil dari pasien terhadap lingkungannya. Dengan bekerja melalui konflik-konflik ini ego akan dibebaskan dari dorongan untuk mempertahankan tingkah laku defensive-seperti fobia, tingkah laku obsesif-kompulsif, keluhan histerikal, dan sebagainya.

c.       Teknik-teknik terapi

Metode utama yang digunakan Freud untuk mencapai tujuan psikoanalisis adalah
1.      Penggunaan asosiasi bebas secara sistematis dan analisis mimpi yang memperlihatkan kepada kita bahwa ketidaksadaran menggunakan simbol-simbol tertentu, khususnya untuk menggambarkan kompleks-kompleks seksual.
2.      Analisis resistensi, yang menjadi dasar teori psikoanalitik dan berhubungan dengan kekuatan-kekuatan yang telah menimbulkan represi.
3.      Analisis transferensi, yang merupakan peralihan pada penyakit menuju kesehatan.
4.      Interpretasi dengan tujuan memecahkan masalah-masalah emosional yang utama pada masa kanak-kanak.

Dengan metode-metode ini, hal-hal yang ditekan ke dalam ketidaksadaran dibawa pada tingkat kesadaran, diselidiki dan ditafsirkan dalam hubungan dengan simtom-simtomnya, konsep dirinya, dan hubungannya dengan orang lain.

Daftar Pustaka

Bertens, K. Psikoanalisis Sigmun Freud. Jakarta: Gramedia
Feist, Jess. Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian (Tehories of Personality) Buku 1. Jakarta: Salemba
 Semiun, Yustinus. (2006). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius


Sabtu, 21 Maret 2015

Tugas Minggu 2

     Perbedaan psikoterapi dan konseling. Blocher (1996) mengemukakan ciri-cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi, yaitu:
1.       Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan, dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.
2.       Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
3.       Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah tokoh otoriter namun adalah seorang ‘pendidik’ dan ‘mitra’ dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.
4.       Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri, meskipun konselor tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupinya.
5.       Konselor memusatkan pada perubahan perilaku, tidak hanya menumbuhkan pengertian.

     Menurut Patterson (1973) dan Pallone (1977), mengatakan bahwa konseling diberikan kepada seseorang sebagai klien, sedangkan psikoterapi kepada seseorang pasien. Seorang penderita neurosis atau psikosis bisa saja menemui seorang konselor untuk tujuan melakukan konsultasi atau konsultansi dan penanganan atau perawatan selanjutnya dilakukan melalui psikoterapi.

Bentuk-bentuk utama terapi adalah sebagai berikut:
1.       Terapi suportif adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Tujuannya adalah menaikkan fungsi psikologi dan sosial, untuk menyokong harga dirinya dan keyakinan dirinya sebanyak mungkin, menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima, mencegah terjadinya relaps, bertujuan agar penyesuaian baik, mencegah ketergantungan pada dokter, dan untuk memindahkan dukungan profesional kepada keluarga

2.    Terapi Reedukatif untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri. Tujuannya adalah untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri kembali, memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada.

3.    Terapi Rekonstruktif untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknaya dialam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luas daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru. 

Daftar Pustaka

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Semiun, Yustinus. (2006). Teori Kepribadian Dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta : Kanisius

Minggu, 15 Maret 2015

Tugas Minggu 1

1. Psikoterapi dalam arti sempit adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang. dalam Oxford English Dictionary, perkataan psychotherapy tidak tercantum, tetapi ada perkataan psychotherapeutic yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.

2. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusus sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
    Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) yaitu membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
    Tujuan psikoterapi lainnya adalah:
~ Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
~ Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
~ Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
~ Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus pada pasien)

    Masserman (dalam Karasu, 1984) telah melaporkan 8 parameter pengaruh dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk:
1. Peran sosial (martabat) psikoterapis
2. Hubungan (perekutuan terapeutik)
3. Hak
4. Retrospeksi
5. Re-edukasi
6. Rehabilitasi
7. Resosialisasi, dan
8. Rekapitulasi
    Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.


Daftar Pustaka

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Guze, Barry dkk. (1997). Buku Saku Psikiatri. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sabtu, 10 Januari 2015

Tugas Psikologi Manajemen 4


Nama:   Tsuraya Farah Khansa W.
NPM:    17512491
Kelas:    3PA06

Komunikasi dalam Managemen

a.       Definisi komunikasi

Kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communication yang berarti ‘pemberitahuan’ atau ‘pertukaran pikiran’. Jadi, secara garis besar, dalam suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
                Ada tiga pengertian utama komunikasi secara etimologis, terminologis, dan paradigmatis, yaitu:
1.       Secara etimologis, komunikasi dipelajari menurut asal-usul kata, yaitu komunikasi berasal dari bahasa latin ‘communicatio’ dan perkataan ini bersumber pada kata ‘comminis’ yang berarti sama makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
2.       Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
3.       Secara paradigmatic, komunikasi berarti pola yang meliputi sejumlah komponen berkorelasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Contohnya adalah ceramah, kuliah, dakwah, diplomasi, dan sebagainya.

b.      Proses komunikasi

Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.       Ide/gagasan diciptakan oleh sumber/komunikator.
2.       Ide yang diciptakan tersebut kemudian dialihbentukkan menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3.       Pesan yang telah di-encoding tersebut selanjutnya dikirimkan melalui saluran/ media yang sesuai dengan karakteristik lambang-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4.       Penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5.       Apabila pesan tersebut telah berhasil di-decoding­, khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut ke komunikator.

c.       Hambatan komunikasi

Menurut Robbins (2003), ada empat hambatan komunikasi yang akan mempengaruhi kualitas komunikasi yang kita lakukan:
1.       Perbedaan bahasa dan persepsi
Karena persepsi anda unik, gagasan yang ingin anda sampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, anda memilih rincian yang tampaknya penting bagi anda, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, anda mencoba menyesuaikan rincian baru ke dalam pola yang sudah ada dalam diri anda. Apabila yang dimaksud tidak ada kesesuaian, kita cenderung mengubah informasi iitu ketimbang mengatur ulang pola yang sudah ada. Hal inilah yang menyebabkan pengertian kita terhadap sesuatu hal akan berbeda secara dramatis dengan orang lain.
2.       Gangguan komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
·      Gangguan emosional, yaitu kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang dalam keadaan marah, kecewa, atau takut. Hal ini menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif.
·      Gangguan fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak dapat dibaca.
      1.       Overload informasi
Komunikasi bisnis sering terganggu karena materinya rumit dan kontroversional. Jumlah pesan bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadii
2.       Penyaringan yang tidak tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu ajan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.

d.      Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula. Kebanyajan komunikasi interpersonal berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan nonverbal dan dilakukan secara lian.

Pelatihan dan Pengembangan

a.       Definisi pelatihan

Menurut peraturan pemerintah R.I. nomor 71 tahun 1991 dikemukakan bahwa pelatihan (pelatihan kerja) adalah keseluruhan kegiatan untuk memberikan, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan keterampilan, produktivitas, disiplin, sikap kerja, dan etos kerja pada tingkat keterampilan tertentu yang pelaksanaannya lebih mengutamakan prakterk daripada teori.

b.      Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan.

Tujuan pelatihan terdiri atas tujuan pembelajaran antara yaitu keluaran (output) yaitu perubahan perilaku peserta pelatihan dalam ranah (domain) kognisi, keterampilan, sikap dan nila-nilai, serta tujuan pembelajaran akhir yaitu pengaruh (outcome)

c.       Perbedaan pelatihan dan pengembangan.

Pelatihan dan pengembangan merupakan dua konsep yang sama yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Tetapi dilihat dari tujuannya, umumnya kedua konsep tersebut dapat dibedakan. Pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik saat ini, dan pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan pekerjaan pada masa yang akan dating, yang dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja.

d.      Faktor psikologi dalam pelatihan dan pengembangan

David McClelland (1961) mencoba menjelaskan suatu lingkungan psikologis yang mempengaruhi perilaku individu unutk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermuara pasa akumulasi kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. McClelland menyatakan bahwa Nedd for Achievement dimanifestasikan kedalam beberapa gaya hidup, yaitu:
1.       Dorongan untuk selalu mengambil resiko (risk-taking).
2.       Kemauan untuk bekerja keras dalam upaya untuk mencapai suatu tujuan.
3.       Kecenderungan untuk memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi.
4.       Dorongan untuk memperdalam pengetahuan tentang tujuan-tujuan konkret suatu kegiatan yang diperlukan dalam rangka penyusunan target.
5.       Pengusaha dengan Nedd for Achievement biasanya memiliki naluri dan kapabilitas untuk membuat rencana jangka panjang dan cara mengorganisasi perusahaan yang dipimpinnya.
Jadi McClelland melihat kepada faktor psikologis individu yang dibentuk oleh lingkungan dimana dia dilahirkan dan dibesarkkan sebagai factor dominan yang menentukan perilaku ekonomi.

e.      Teknik dan metode Pelatihan

Ada beberapa tenik yang bias digunakan dalam pelatihan  dan pengembangan, yaitu:
1.       On the job training

a.       Job instruction training (JIT)

b.      Job rotation
c.       Apprenticeships (magang)
d.      Coaching
2.       Off the job training
a.       Lecture/kuliah mimbar
b.      Vestibule training
c.       Role playing
d.      Behavior modeling
e.      Case study
f.        Simulation
g.       Self study
h.      Programmed learning
i.         Laboratory training (latihan dalam laboraturium)




Hadiwinata, Bob. S. (2002). Politik Bisnis Internasional. Jogjakarta: Kanisius.
Hardjana, Agus M. (2003). Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Jogjakarta: Kanisius.
Hariandja, Marihot T.E. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Grasindo.
Sirait, Justine T.  Memahami Aspek-Aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Grasindo.
Sukoco, Badri M. (2007). Manajemen Administras Perkantoran Modern. Penerbit Erlangga.
Suprapto, Tommy. (2009), Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Jogjakarta: MedPress.
Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI. (2007). Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Grasindo 

Minggu, 26 Oktober 2014

Tulisan Pertemuan II

Jenuh Kerja Kantoran, Baby Wijaya Kembali ke Hiburan
Mahardian Prawira Bhisma - detikhot
Kamis, 23/10/2014 14:39 WIBhttp://newopenx.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=439&campaignid=3&zoneid=249&loc=1&referer=http%3A%2F%2Fhot.detik.com%2Fread%2F2014%2F10%2F23%2F143911%2F2727722%2F230%2Fjenuh-kerja-kantoran-baby-wijaya-kembali-ke-hiburan&cb=56844b2440

Jakarta -
Satu lagi transgender yang siap kembali ke dunia hiburan. Baby Wijaya yang pernah bermain film 'Mati Muda di Pelukan Janda' itu mengaku jenuh kerja kantoran.

"Ke entertainment mau balik lagi karena aku vakum dua tahun, aku mau terusin sibuk usaha desain interior, aku ada proyek ke entertainment. Akting dan nyanyi, kemarin FTV baru tayang tentang saya istri pak lurah yang serakah dan jahat peran-peran antagonis yang ada di kehidupan biasanya," ujarnya kepada detikHOT, Kamis (23/10/2014).
Dua tahun menghilang dari dunia hiburan, Baby menjajal kerja kantoran. Namun rasa kangennya berakting pun membuat Baby ingin kembali.

Ditambah, pekerjaan terakhir Baby ternyata tak semulus harapan. "Saya masih trauma, karena kalau di kerja kantoran kita harus bener-bener siap lingkungan yang pada cari muka dan saya nggak bisa," curhatnya.


Menyoal seleb transgender yang selalu mudah menjadi buah bibir di masyarakat, Baby mengaku bangga.


"Saya rasa sih sudut pandang saya nggak ada yang tabu semua lagi positif saya justru membuat motivasi kaum orang lain. Kalau menurut saya bangga kayak Solena Chaniago. Mereka benar-benar berjuang," urainya.





Tanggapan 
Menurut saya, setiap orang memiliki tingkat kepuasan/ketidakpuasan terhadap pekerjaan mereka. Termasuk Baby Wijaya yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya di kantor dan memutuskan untuk kembali ke entertainment. Faktor yang menyebabkan ketidakpuasan Baby terhadap pekerjaanya adalah suasana kantor yang tidak nyaman untuknya seperti banyaknya karyawan yang senang cari muka dan berpura-pura serta pembicaraan banyak orang tentang dirinya yang seorang transgender. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan seseorang dalam pekerjaannya. Motivasi internal seperti pekerjaan yang merupakan hobi dan eksternal seperti lingkungan kerja juga sangat erat kaitannya dengan kepuasan dan ketidakpuasan sseorang terhadap pekerjaannya.